Rasa taro adalah perpaduan rasa manis, creamy, dan sedikit earthy yang berasal dari umbi talas. Dalam dunia minuman, rasa taro hadir dalam berbagai bentuk seperti bubble tea, latte, smoothie, hingga minuman susu kekinian. Popularitasnya terus naik karena rasanya yang unik, warnanya yang menarik, dan cocok dikombinasikan dengan banyak bahan lain.
Kalau kamu pernah pesan minuman berwarna ungu keunguan di kafe atau kedai bubble tea, kemungkinan besar kamu sudah mencicipi rasa taro. Warnanya langsung menarik perhatian. Rasanya? Susah dijelaskan dengan satu kata.
Ada yang bilang manis. Ada yang bilang sedikit kacang-kacangan. Ada juga yang bilang creamy banget. Semua itu benar, dan itulah yang membuat rasa taro jadi salah satu rasa paling populer di industri minuman saat ini.
Tapi sebenarnya, dari mana rasa itu berasal? Apa yang membuat rasa taro begitu khas? Dan kenapa minuman berbasis taro terus bermunculan di mana-mana?
Artikel ini akan membahas semua itu. Bukan panduan cara membuat, bukan resep, tapi lebih ke pemahaman soal rasa taro itu sendiri, kenapa banyak orang suka, dan bagaimana rasa ini hadir dalam berbagai jenis minuman yang kamu temui sehari-hari.
Rasa Taro Itu Sebenarnya Rasa Apa?

Taro berasal dari umbi talas, tanaman yang sudah lama dikenal di Asia, Afrika, dan Pasifik. Umbi talas punya rasa yang earthy dan sedikit manis secara alami. Tapi ketika diolah menjadi bubuk atau pasta untuk minuman, rasanya bisa jauh lebih kompleks.
Dalam konteks minuman, rasa taro yang paling sering kamu temui adalah kombinasi dari:
- Manis yang lembut, tidak menyengat
- Creamy, terutama kalau dicampur susu atau santan
- Sedikit nutty atau earthy di bagian belakang lidah
- Aroma yang khas, agak vanilla-like tapi lebih berat
Karena profil rasanya yang tidak terlalu dominan di satu arah, taro jadi sangat fleksibel. Cocok dipasangkan dengan susu segar, susu oat, santan, bahkan teh hitam atau teh hijau.
Kenapa Warna Ungu Identik dengan Taro?
Kalau kamu perhatikan, hampir semua minuman taro di pasaran berwarna ungu muda sampai ungu tua. Ini bukan kebetulan.
Talas ungu, atau yang sering disebut ube dalam bahasa Filipina, memang mengandung pigmen alami bernama antosianin yang menghasilkan warna ungu. Taro biasa (taro putih) sebenarnya tidak terlalu berwarna. Tapi karena ube dan taro punya profil rasa yang mirip, banyak produsen minuman menyatukan keduanya, atau menggunakan pewarna untuk menghasilkan tampilan ungu yang konsisten.
Hasilnya? Minuman yang tidak hanya enak tapi juga menarik secara visual. Di era media sosial, ini jelas jadi nilai tambah yang besar. Warna ungu taro sudah jadi semacam identitas visual yang langsung dikenali.
Rasa Taro dalam Dunia Minuman: Hadir dalam Banyak Bentuk

Salah satu alasan kenapa rasa taro begitu populer adalah karena dia bisa hadir dalam banyak format minuman yang berbeda. Bukan cuma satu jenis.
1. Bubble Tea Taro
Ini mungkin yang paling terkenal. Bubble tea taro, atau milk tea taro, adalah minuman yang terbuat dari campuran bubuk taro, susu, dan boba (tapioca pearl). Rasa susunya bikin taro terasa lebih ringan dan creamy, sementara boba menambah tekstur yang menyenangkan.
Di Asia Tenggara, bubble tea taro sudah jadi menu standar di hampir semua kedai minuman. Di Jakarta, Surabaya, Bandung, sampai kota-kota kecil, kamu akan mudah menemukan varian ini.
2. Taro Latte
Taro latte adalah versi yang lebih dewasa dari bubble tea taro. Biasanya dibuat dengan espresso atau susu dikukus, dicampur dengan pasta atau bubuk taro. Rasanya lebih dalam, tidak terlalu manis, dan cocok untuk kamu yang suka kopi tapi mau sesuatu yang berbeda.
Banyak kafe spesialti mulai menawarkan taro latte sebagai alternatif dari matcha latte, yang sudah sangat umum.
3. Taro Smoothie dan Frappe
Kalau kamu lebih suka minuman dingin yang kental, taro smoothie atau taro frappe bisa jadi pilihan. Biasanya dibuat dengan es blender, susu, dan bubuk taro. Teksturnya tebal, rasanya kaya, dan sangat memuaskan untuk diminum di cuaca panas.
Beberapa kedai juga menambahkan topping seperti whipped cream, red bean, atau grass jelly untuk menambah variasi.
4. Taro Milk (Susu Taro)
Ini adalah versi paling sederhana. Susu taro biasanya hanya campuran susu segar atau susu UHT dengan bubuk taro, tanpa espresso, tanpa boba. Rasanya ringan, manis alami, dan cocok untuk semua usia.
Di banyak warung minuman kekinian, susu taro dijual dalam botol atau cup dengan harga yang lebih terjangkau dibanding bubble tea.
5. Taro Tea (Teh Taro)
Ada juga minuman yang menggabungkan taro dengan teh. Biasanya menggunakan teh hitam atau teh oolong sebagai bahan dasar, kemudian dicampur dengan rasa taro. Hasilnya adalah minuman yang punya kedalaman rasa dari teh, tapi dengan sentuhan creamy dan manis dari taro.
Apa yang Membuat Rasa Taro Begitu Disukai Banyak Orang?

Kalau dipikir-pikir, ada beberapa alasan kenapa rasa taro bisa sepopuler ini, terutama di kalangan anak muda.
- Rasanya tidak ekstrem. Taro tidak terlalu manis seperti karamel, tidak pahit seperti dark chocolate, tidak asam seperti lemon. Rasanya ada di tengah-tengah, nyaman, dan tidak mengagetkan lidah. Ini bikin taro cocok untuk orang yang ingin mencoba sesuatu yang unik tanpa harus keluar terlalu jauh dari zona nyaman.
- Cocok dengan banyak bahan. Taro bisa dipadukan dengan hampir semua bahan dasar minuman. Susu sapi, susu oat, susu kedelai, santan, teh, kopi, semuanya bisa jalan dengan taro. Ini membuat taro jadi pilihan yang sangat fleksibel bagi produsen minuman.
- Visualnya menarik. Warna ungu taro secara psikologis dianggap premium dan unik. Di era Instagram dan TikTok, minuman yang fotogenik jelas punya keunggulan tersendiri. Banyak orang pertama kali mencoba taro karena tertarik dengan tampilannya di media sosial.
- Ada faktor nostalgia. Di banyak negara Asia, talas adalah bahan makanan yang sudah dikenal sejak kecil. Rasa taro dalam minuman membawa semacam kenyamanan yang familiar, tapi dalam bentuk yang lebih modern dan kekinian.
Taro vs Ube: Dua Hal yang Sering Tertukar
Banyak orang mengira taro dan ube adalah hal yang sama. Keduanya memang mirip, tapi ada bedanya.
Taro (talas biasa) punya daging berwarna putih atau sedikit keabuan dengan tekstur yang lebih kering. Rasanya earthy dan sedikit manis.
Ube adalah sejenis ubi ungu yang berasal dari Filipina. Dagingnya berwarna ungu cerah secara alami, dan rasanya lebih manis dengan sentuhan vanilla yang lebih kuat.
Dalam konteks minuman komersial, banyak yang mencampurkan keduanya atau menggunakan istilah taro untuk menggambarkan rasa yang sebenarnya lebih dekat ke ube. Jadi ketika kamu minum taro latte di kafe, bisa jadi rasanya sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh ube.
Tidak ada yang salah dengan ini. Hasilnya tetap enak. Tapi penting untuk tahu perbedaannya kalau kamu ingin lebih paham soal apa yang sebenarnya kamu minum.
Baca Juga: Tiramisu Minuman: Lebih dari Sekadar Kopi Biasa
Seberapa Populer Rasa Taro di Indonesia?
Di Indonesia, rasa taro sudah sangat umum ditemukan di berbagai segmen pasar minuman. Dari kedai bubble tea premium seperti Xing Fu Tang dan Tiger Sugar, sampai gerobak minuman pinggir jalan yang menjual susu taro seharga Rp 8.000, rasa ini ada di mana-mana.
Tren ini semakin kuat sejak pandemi, ketika bisnis minuman kekinian berkembang pesat. Banyak orang yang mulai membuka usaha minuman rumahan, dan taro jadi salah satu rasa yang paling banyak dicari karena bahan bakunya mudah didapat dalam bentuk bubuk.
Saat ini, bubuk taro tersedia dalam berbagai merek dan kualitas di pasar. Beberapa versi mengandung pewarna buatan, beberapa lainnya mengklaim lebih alami. Ini mempengaruhi rasa akhir dari minuman yang dihasilkan.
Apakah Rasa Taro Akan Terus Populer?

Tren rasa dalam industri minuman memang datang dan pergi. Dulu matcha yang sedang booming, lalu brown sugar, lalu cheese tea. Taro sudah ada cukup lama dan sepertinya tidak kemana-mana.
Alasannya sederhana: rasa taro punya identitas yang cukup kuat dan basis penggemar yang luas. Bukan rasa musiman yang hanya muncul karena tren sesaat. Banyak orang yang sudah menjadikan taro sebagai pilihan utama mereka ketika memesan minuman, bukan sekadar pilihan eksperimental.
Selain itu, fleksibilitas taro sebagai rasa membuatnya mudah diadaptasi ke format minuman baru yang terus bermunculan. Selama industri minuman terus berinovasi, taro kemungkinan besar akan tetap relevan.
Rasa yang Sederhana, Dampaknya Tidak Kecil
Taro mungkin terlihat seperti pilihan minuman biasa. Tapi kalau kamu perhatikan lebih dalam, ada banyak hal menarik di balik rasa ungu yang satu ini. Dari asal-usulnya sebagai umbi talas, sampai cara dia bertransformasi menjadi salah satu rasa paling ikonik di dunia minuman modern.
Yang paling menarik dari taro adalah kemampuannya untuk terasa familiar sekaligus unik pada saat yang sama. Rasanya tidak asing, tapi juga tidak membosankan. Dan itu adalah hal yang sangat sulit dicapai dalam industri makanan dan minuman.
Jadi lain kali kamu melihat menu taro di kedai minuman favoritmu, kamu sudah tahu lebih banyak dari sebelumnya soal apa yang sebenarnya ada di dalam gelas itu.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan soal Rasa Taro
1. Apa rasa taro itu sebenarnya?
Rasa taro adalah kombinasi manis yang lembut, creamy, dan sedikit earthy. Berasal dari umbi talas yang diolah menjadi bubuk atau pasta. Dalam minuman, rasanya sering terasa lebih ringan karena dicampur dengan susu atau bahan lain.
2. Kenapa minuman taro berwarna ungu?
Warna ungu pada minuman taro berasal dari pigmen alami bernama antosianin yang ada dalam talas ungu atau ube. Taro biasa sebenarnya berwarna putih, tapi banyak produk minuman menggunakan campuran ube atau pewarna untuk menghasilkan warna ungu yang khas.
3. Apa bedanya taro dan ube?
Taro adalah talas biasa dengan daging berwarna putih dan rasa earthy. Ube adalah ubi ungu dari Filipina dengan daging berwarna ungu cerah dan rasa yang lebih manis dengan sentuhan vanilla. Keduanya sering disamakan tapi sebenarnya berbeda.
4. Minuman taro apa yang paling populer?
Bubble tea taro adalah yang paling dikenal. Selain itu, taro latte, taro smoothie, taro frappe, dan susu taro juga sangat populer di berbagai segmen pasar.
5. Apakah rasa taro cocok untuk semua orang?
Rasa taro cenderung disukai banyak orang karena tidak terlalu ekstrem. Manis, creamy, dan tidak menyengat. Cocok untuk anak-anak maupun orang dewasa. Tapi karena banyak minuman taro mengandung susu, perlu diperhatikan bagi yang intoleransi laktosa.
6. Apakah ada minuman taro tanpa susu?
Ada. Beberapa kedai menawarkan taro tea berbasis teh tanpa susu, atau menggunakan susu nabati seperti susu oat atau susu kedelai sebagai alternatif.







